BERHIJRAH TAK SEMUDAH MEMBALIKKAN TELAPAK TANGAN
ARTIKEL
Nama
: Fema Dewita
NPM
: 12218665
Kelas
: 3EA09
Pada zaman sekarang ini, hijrah
merupakan fase seseorang dalam melakukan perpindahan atau meninggalkan kondisi
yang buruk ke suatu kondisi yang baik dengan tujuan untuk membenahi diri agar
semakin dekat dengan Allah SWT. Di suatu ketika pada tahun 2017, seorang gadis
muslimah bernama Dewi yang bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kab. Bogor memutuskan
hijrahnya karena terbawa arus lingkungan yang sehat di sekolahnya. Teman adalah
peran utama yang membuat seseorang dapat berubah. Pada hakikatnya, manusia
adalah makhluk Allah yang sangat dinamis, tergantung pada siapa ia bergaul.
Sama hal-nya seperti kata pepatah, “Jika kita berteman dengan tukang ikan, maka
kita juga akan tertular bau amisnya, namun jika kita berteman denga tukang
minyak wangi, maka kita akan tertular wanginya”. Namun yang telah kita amati
pada remaja saat ini, banyak sekali yang salah kaprah tentang perubahan –
perubahan yang ada pada dirinya. Kebanyakan dari mereka, menyalahkan temannya yang
sudah mengajaknya yang tidak benar. Padahal, dengan berkurangnya umur kita
setiap tahun, seharusnya kita lebih memahaminya, bahwasannya biarkan teman
berperilaku seperti apa, karena semuanya tergantung diri kita menempatkan diri.
Jika kita selalu membawa pengaruh positif terhadap teman, mereka yang akan ikut
dengan kita. Salah diri kita yang menjadi tidak benar seperti mereka.
Teman
Dewi banyak yang sudah mengenakan kerudung syar’i saat sekolah ataupun di luar
sekolah. Tetapi, posisi Dewi pada saat itu masih berkerudung biasa dan masih
memiliki pacar, seseorang yang selalu dibanggakannya dibanding temannya yang
lain. Perspetifnya, pacarnya adalah sahabatnya, kakaknya, ataupun seseorang
yang selalu senang menasehatinya hampir setiap hari dan membuatya menjadi
nyaman. Kabar baiknya, Alhamdulillah, Allah SWT berkehendak baik padanya saat
itu. Dewi mulai terketuk pintu hatinya dan memulai untuk mengenakan kerudung
syar’i seperti beberapa temannya di sekolah. Salah Dewi saat itu yakni, sudah
mengenakan kerudung syar’I, namun masih berjalan mesra berduaan dengan sang
pacar. Sindiran dari orang - orang yang melihatnya bergandengan tangan, membuat Dewi sakit hati dan tidak terima.
Pikirnya, “Hijrah itu tidak semudah yang orang lain pikir dan semuanya
membutuhkan proses.” Hijrah itu memang sulit. Apalagi, posisinya seperti muda –
mudi yang sedang di mabuk asmara. Namun, itulah gunanya kita berteman dengan
orang – orang yang baik, dengan harap dapat mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.
Banyak
teman yang sayang dengannya, sehingga beberapa teman menasehatiya. Sampai
akhirnya, Dewi pun malu dan ia memutuskan pacarnya secara sepihak melalui pesan
singkat di handphone – nya. Sang
pacar pun tidak terima dan bertekad untuk menemui Dewi sepulang sekolah untuk
meminta penjelasan langsung dari mulutnya. Nahasnya, sang pacar tidak terima
diputuskan hanya karena ingin hijrah ke jalan – Nya. “Padahal, kita bisa bicara
baik – baik dulu atau kita bisa berkomitmen sampai menikah nanti”, ujar sang
pacar. Namun, usaha sang pacar pun di potong oleh Dewi, “Untuk apa berkomitmen
juga? Jangan menjadi hamba yang sok tahu dengan
memilihku untuk menjadikanmu istri. Aku tidak tahu. Lihat saja nanti Allah
memperispakan jodohku itu siapa. Jangan khawatir, kalau kita memang jodoh,
Allah akan temukan kita nanti di waktu yang tepat.” Namun, usaha sang pacar
juga belum berakhir. Akhirnya sang pacar datang ke rumah Dewi dan berbincang
langsung dengan Ibu Dewi tanpa sepengetahuannya terlebih dahulu. Obrolan
panjang di antara keduanya saat petang hari kala senja mulai muncul, Dewi
terduduk diam dengan wajah yang penasaran dari dalam ruang tamu dan hanya dapat mengendus
dari balik jendela. Karena, Dewi dilarang bergabung dalam obrolan oleh sang
pacar. Setelah perbincagan selesai, kata Ibu Dewi, intinya sang pacar akan menikahi Dewi saat lulus SMA
nanti. Ternyata, maksiat dalam 2 tahun terakhir itu sulit untuk di akhiri.
Tetapi,
Allah mempunyai jalan – Nya sendiri. Dewi sangat bersyukur karena saat
perbincangan lalu, antara sang pacar dengan Ibunya tersebut membuahkan hasil
yang baik. Sang Ibu yang menyudahi semuanya. Sejak saat itu, Dewi pun perlahan
mencoba istiqomah mengenakan pakaian syar’i tersebut saat sekolah atau pun di
luar sekolah, walaupun banyak sekali gunjiingan dari teman – teman dan
keluarganya. Seperti, “lo itu kayak ibu –
ibu tau gak!”, “kayak kuntilanak,
panjang banget”. Alhamdulillah, hatinya sudah kebal menanggapi kritik dari
orang – orang seperti itu, yang mungkin belum memahami syari’at sepenuhnya.
Beberapa
bulan berikutnya, orang tua Dewi baru saja pulang dari tanah suci, Mekkah Al-
Mukaromah. Saat ibunya mengeluarkan selembar kain kecil dari dalam tasnya
tersebut, di ambillah oleh Dewi. Ia mencoba mengenakannya sembari bercermin.
Perasaan hatinya saat itu sangatlah nyaman. Ini adaah salah satu cara agar tak
sembarang orang memandangi wajahnya. Bukan karena sok cantik, hanya saja berusaha membantu pandangan lelaki agar tak
terjadi fitnah. Karena, jika seorang wanita saat keluar rumah tidak membaca
do’anya, maka akan diikuti oleh banyak syaitan dan fitnah terbesar adalah
perempuan.
Sama
seperti awal ia mengenakan pakaian syar’i, memakai cadarpun banyak sekali orang
orang yang menyerangnya. Menyerang dalam artian menjulurkan kata kasar yang
dapat menyinggung perasaan seseorang. Entah mengapa, iman Dewi sangat tipis
pada saat itu. Ia tak tahan, dan
akhirnya mengenakan cadarnya bukan untuk di lingkungan sekolah melainkan hanya
saat pergi dan pulang ke sekolah saja. Kali ini, bukan hanya mendapat kecaman
dari para teman, tetapi juga dari guru Al Qur’an Hadits – nya. Dewi sudah tak
tahan, hingga tanpa sadar mengeluarkan air mata yang deras saat “di nasehati”
oleh guru tersebut. Walau memang berbeda pandangan, mau bagaimanapun, beliau
adalah guru, dan Dewi hanyalah murid yang sedang belajar. Karena, sangat tidak
mungkin seorang murid berbicara dengan nada tinggi dengan gurunya, apalagi guru
mata pelajaran agamanya, yang Dewi fikir lebih tahu segalanya. Sedikit ulasan,
saya bingung dengan beberapa teman dan guru yang di anggap lebih memahami ilmu
agama, tapi kenapa mereka juga yang melanggar. Seperti seorang koruptor yang
mempunyai ilmu tinggi tapi malah melakukan tindak pidana korupsi. Namun, melanggar
yang saya maksud seperti, yang seharusnya antara wanita dan laki – laki bukan
muhrim tidak boleh bersentuhan. Ya, memang beliau tidak bersentuhan dengan
murid, melainkan antara guru laki – laki dan perempuan malah berjabat tangan.
Lalu teman saya yang di pondok pesantren, yang saya anggap lebih paham ilmu
agama di banding saya, malah berpacaran dan suka mengumbar sedikit auratnya
seperti memakai kerudung, tetapi rambutnya terlihat dan jarang sekali yang
menggunakan kaus kaki saat keluar, padahal kaki adalah sebagian aurat dari
wanita. Mereka yang sudah paham ilmunya, tetapi masih banyak melakukan
kesalahan dan akan menajadi tanggungan dosa untuknya. Lalu, untuk apa kita
menabung dosa? Bukankah syarat masuk syurga tabungan amal sholehnya yang harus
banyak?
Kemudian,
ada salah satu dari anggota keluarga Dewi yang berkata kasar, “haha, ngapain sih lu muka segala di
tutupin, make topeng? Tuh topeng monyet aja sekalian”. Sungguh, ini adalah
hujatan paling menyakitkan bagi Dewi. Sunnah yang disamakan dengan atraksi seekor binatang. Seharusnya,
kalau memang tidak menyukai sunnah, lebih baik diam. Dan barang siapa yang tidak
menyukai sunnah, maka bukanlah umat Nabi Muhammad. Bukankah sudah tertera
seperti itu dalam kitab suci Al Qur’an surah Ali Imran?
Akhirnya,
Dewi mencoba istiqomah dalam bercadar pada saat lulus SMA. Ketika mulai sering
mengenakannya, Ayahnya bertanya, apa tujuan Dewi bercadar? Jelas ayahnya sangat
khawatir jika anaknya megikuti aliran – aliran islam yang menyimpang. Karena,
Dewi bukanlah dari keluarga yang saklek agama
islam. Dengan santai, Dewi menjelaskan kalau ia nyaman saat mengenakannya,
untuk mengurangi fitnah dari laki – laki dan agar ia benar – benar dapat
menjadi muslimah yang anggun. Mengingat, dulu Dewi adalah perempuan yang tomboy.
Ibu
Dewi megingatkan bahwa seseorang yang berhijirah juga harus mengaji. Karena,
hijrah bukan hanya dalam hal mengubah penampilan saja, melainkan mendidik mulut
agar berkata lemah lembut dan agar ilmu agama kita juga bertambah. Saat
beberapa bulan sudah Dewi mengaji, ia sadar, bahwa Allah menginginkan kita
untuk istiqomah. Istiqomah bukanlah hal monoton yang stuck sampai situ saja. Tetapi, dengan kita mempelajari ilmu agama
yang lebih, insyaa Allah kita dapat menjalankan sunnah yang lain dan
menyempurnakan kewajiban sebagai muslim. Karena, agama islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Komentar
Posting Komentar